Penyesalan

Oleh Mohammad Salahuddin

“Lima Menit Lagi!” terdengar suara lantang dari dekat
pintu kelas.

Muka Amir-pun menjadi merah, dan keringat dinginpun
mulai keluar.

Sebentar-sebentarpu n ia gigit pencil yang ada di
gengamannya dengan sangat keras. Kertas ujiannya masih
terlihat kosong. Detak jantungnyapun semakin keras,
dan makin terasa ketakutan dalam dirinya bercampur
dengan penyesalan yang amat sangat bahwa ia tidak
belajar sungguh-sungguh untuk ujian yang sedang
dilakukannya. Terbayang olehnya bahwa ia akan dihukum
orang tuanya. Terkadang iapun menggigit jarinya,
sampai tidak terasa lagi bahwa kukunya sudah mulai
membiru karena gigitannya yang sangat keras.

Demikianlah sekilas gambaran dari seseorang yang
sedang berada dalam ketakutan dan kecemasan
sampai-sampai ia sendiri tidak merasakan lagi bahwa ia
menggigit jarinya dengan keras.

Pernahkah kita merasa ketakutan dan penyesalan
terhadap apa yang kita telah lakukan? Pernahkah kita
membayangkan bahwa suatu saat akan banyak sekali orang
yang menyesal dengan amat sangat dalam, sampai-sampai
ia bukan hanya menggigit jari mereka tetapi sampai
memasukkan kedua tangan mereka ke dalam mulut dan
menggigitnya. Allah (S. W. T.) dalam Al-Qur’an
berfirman:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim
menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai
kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.
‘ ” (Q. S. Al-Furqan 25:27)

Bukan hanya memasukkan kedua tangan kita ke dalam
mulut, saking ketakutannya detak jantung merekapun
akan berdegup begitu kerasnya hingga menyumbat
(menyesak) kerongkongan mereka. Allah (S. W. T.)
berfirman:

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat
(hari kiamat yaitu) ketika (detak) jantung (menyesak)
sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan.
Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia
seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi
syafa’at yang diterima syafa’atnya. ” (Q. S. Ghafir
40:18)

Begitu banyaknya orang yang akan menyesal pada hari
Kiamat nanti, sehingga Allah (S. W. T.) menyebut hari
Kiamat ini sebagai “Hari Penyesalan.” Allah (S. W. T.)
berfirman:

“Dan berilah mereka peringatan tentang Hari
Penyesalan” (Q. S. Maryam 19:39)

Kalau Amir (dalam kisah di atas) mencapai klimaks
ketakutannya selama lima menit terakhir dari ujiannya.
Ditambah dengan klimaks penyesalannya mungkin hanya
beberapa hari atau beberapa minggu setelah ujian
tersebut. Tetapi ketakutan dan penyesalan yang akan
terjadi dalam hari Kiamat adalah amat sangat jauh dari
hanya satu minggu, satu bulan maupun satu tahun.
Rasulullah (S. A. W.) pernah berkata bahwa hari Kiamat
(hari di mana kita dibangkitkan kembali sampai selesai
perhitungan amal kita) adalah satu hari yang
panjangnya lima puluh ribu tahun. (Hadist Riwayat
Bukhari dan Muslim)

Ya, lima puluh ribu tahun kita nanti harus berdiri,
menunggu, diselesaikan urusan di antara kita,
ditimbang amalan kita, sebelum akhirnya kita dimasukan
ke surga atau ke neraka. Selama lima puluh ribu tahun
tersebut akan banyak sekali orang yang ketakutan dan
menyesal terhadap apa yang dilakukannya. Rasullah (S.
A. W.) pernah bersabda bahwa ketika kita wafat (di
dalam kubur), kita akan diperlihatkan setiap pagi dan
setiap petang tempat yang akan kita tempati (di
akhirat nanti). Apabila kita adalah Ahli Surga (orang
yang akan tinggal di surga), maka kita akan
diperlihatkan tempat kita dalam surga. Apabila kita
adalah Ahli Neraka (orang yang akan tinggal di
neraka), maka akan diperlihatkan kepada kita tempat
kita di neraka. (H. R. Bukhari)

Bisa dibayangkan bagaimana ketakutannya para calon
penghuni neraka pada hari Hari Kebangkitan nanti.
Mereka telah diperlihatkan tempat mereka di neraka.
Mereka telah diperlihatkan bagaimana mereka nantinya
dibakar dengan api yang panasnya 70 kali lipat api di
dunia. Mereka telah diperlihatkan bagaimana mereka
nantinya hanya bisa minum air mendidih dan nanah, yang
apabila diminum hanya akan menghancur-leburkan perut
mereka dan tidak menghilangkan rasa haus mereka.
Mereka telah diperlihatkan bahwa makanan mereka
hanyalah zaqum yang berduri, yang apabila dimakan
hanya akan merobek perut mereka dan tidak akan pernah
membuat kenyang.

Begitu menakutkannya hari kebangkitan ini, sampai anak
kecil yang tidak memiliki dosapun akan beruban dan
rambutnya menjadi putih. Allah (S. W. T.) berfirman:

“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu
jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan
anak-anak beruban. ” (Q. S. Al-Muzzammil 73:17)

Lalu bagaimana dengan diri kita yang pastinya telah
berbuat jauh lebih banyak dosa dibandingkan dengan
anak kecil? Sedangkan anak-anak kecilpun akan beruban
karena dasyatnya Hari Kebangkitan ini.

Rasulullah (S. A. W.) pernah bersabda bahwa Hari
Kiamat dan Hari di mana kita akan dibangkitkan kembali
akan terjadi pada hari Jum’at.

Abu Hurairah melaporkan bahwa Rasulullah (S. A. W.)
ditanya (oleh seseorang) tentang alasan mengapa hari
Jum’at dinamakan seperti itu (Jum’at), beliau
menjawab, “Karena pada hari itu bapakmu Nabi Adam
diciptakan, pada hari itu akan terjadi Sa’qah
(terompet pertama) dan Hari Kebangkitan (terompet
kedua), pada hari itu hukuman hari kiamat akan
dilakukan, dan pada tiga jam terakhir di hari itu ada
waktu yang mana apabila seseorang berdo’a maka Allah
akan mengabulkannya. ” (H. R. Tirmidhi)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah (S. A. W.) pernah
berkata, “Pada hari Jum’at setiap hewan akan mengamati
sejak subuh sampai maghrib karena takut akan terjadi
hari Kiamat (pada hari itu), kecuali jin dan manusia.
” (H. R. Abu Dawud).

Lalu apakah hari Kiamat akan terjadi pada hari Jum’at
ini? Jum’at minggu depan? Jum’at bulan depan? Ataukah
tahun depan?

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah (S. A.
W.), “Kapankan akan terjadi Hari Kiamat?” Nabi (S. A.
W.) balik bertanya “Apa yang telah engkau persiapkan
untuknya (hari Kiamat tersebut)?”

Apakah yang telah kita persiapkan untuk Hari Kiamat
tersebut?

Nabi Muhammad (S. A. W.) pernah bersabda, “Setiap
hamba Allah akan tetap berdiri pada Hari Kiamat
(sewaktu kita dibangkitkan) sampai ia ditanya: tentang
hidupnya, dan bagaimana ia menjalaninya; tentang
ilmunya, dan bagaimana ia menggunakannya; tentang
hartanya, dan bagaimana ia mendapatkannya dan
membelanjakannya; serta tentang tubuhnya, dan
bagaimana ia menggunakannya. ” (H. R. Al-Tirmidhi)

Marilah kita berintrospeksi diri terhadap apa yang
telah kita lakukan, ilmu apa yang telah kita amalkan,
dari mana uang yang kita dapat dan bagaimana kita
membelanjakannya, apa yang telah kita ucapkan, dan
seterusnya dan seterusnya.

Mu’adh ibn Jabal pernah bertanya kepada Nabi Muhammad
(S. A. W.), “Ya Rasulullah, apakah kita akan diminta
pertangung-jawaban terhadap setiap kata yang kita
ucapkan?” Ia (S. A. W.) menjawab, “‘Tsakilatuka
Ummuka’ (ekspresi bhs. Arab), seseorang akan dilempar
(dengan muka di bawah) ke dalam api neraka hanya
karena apa yang diucapkannya! ” (H. R. Ahmad, Tirmidhi,
Ibnu Majah)

Akankah kita akan menjadi orang yang ketakutan selama
lima puluh ribu tahun? Akankah kita menjadi orang yang
menyesal selama-lamanya? Mudah-mudahan kita bukan
termasuk orang-orang yang mengabaikan ancaman-ancaman
tentang api neraka, sebagaimana orang-orang kafir
telah mengabaikan ancaman-ancaman tersebut. Allah (S.
W. T.) berfirman:

“Mereka menganggap ayat-ayat Kami dan
peringatan-peringat an (ancaman-ancaman) terhadap
mereka sebagai olok-olokkan. ” (Q. S. Al-Kahfi 18:56)

Wallahu-a’lam bish-shawab.

Tentang mpatria

mpatria in Depok Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Islamic article. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s